|

Menyebut Nagari Taehbukik, warga Kabupaten Limapuluh Kota langsung teringat dengan bupati mereka Alis Marajo Datuak Sori Marajo. Politisi tangguh itu memang dibesarkan di Taehbukik, persisnya di Jorong Bukiktapuang. Seperti apa, Taehbukik sekarang?
Tidak banyak yang berubah dengan Nagari Taehbukik di Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota. Kecuali jalannya yang semakin mulus dan penduduknya yang semakin ramai. Nagari itu masih seperti dulu, dikitari Gunuang Bonsu atau Gunung Bungsu.
Di Gunung Bungsu itupula, setiap tahun Hijriyah di bulan Safar, orang-orang dari berbagai penjuru daerah di Sumbar, terutama dari Kabupaten Limapuluh Kota, khususnya Nagari Taehbukik dan Nagari Taehbaruah, datang untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad dan membaca surat Yasin.
Kendati tradisi yang dikenal dengan nama "Basafa ka Gunuang Bonsu" (Memperingati Bulan Safar di Gunung Bungsu) itu tidak ditemukan di kampung-kampung lain di Minangkabau yang penduduknya seratus persen Islam. Tetapi, warga Taehbukik tetap melanjutkan tradisi warisan nenek-moyang mereka. |
|
Selanjutnya...
|
|

Kota Solok tidak memiliki potensi sumber daya Alam (SDA) yang bisa diandalkan. Kota kecil ini tidak punya tambang batubara, minyak bumi, emas, biji besi ataupun lahan yang luas untuk digarap untuk perkebunan, kehutanan ataupun pertanian. Namun di balik keterbatasan itu, kota yang berpenduduk kurang dari 60 riu jiwa tersebut diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Kota ini secara alami menjadi perlintasan dan persinggahan berbagai daerah. Baik di provinsi Sumbar maupun provinsi tetangga. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025, daerah ini memantapkan diri sebagai kota perdagangan dan jasa. RPJP ini disusun setelah melalui kajian matang tentang kondisi geografis, topografis, ekonomi, budaya dan fasilitas yang dikembangkan di Kota Solok. Secara geografis Kota Solok terletak di tengah-tengah provinsi Sumbar. Hal ini menjadikan kota yang dijuluki Kota Beras ini menjadi kota perlintasan. Kondisi geografis ini turut ditunjang oleh peluang sumberdaya manusia (SDM) yang harus "dibangunkan". Dengan jumlah penduduk 59.162 jiwa, masyarakat usia produktif (15-65 tahun) mencapai 36.716 jiwa. Dari jumlah ini, 90,41 persen (24.592 jiwa) merupakan mereka yang sedang bekerja di berbagai sektor. Sehingga jumlah pengangguran hanya 2.608 jiwa (9,59 persen). Jumlah pengangguran itupun hanyalah mereka mereka yang bekerja serabutan atau tidak bekerja tidak sesuai keahlian. |
|
Selanjutnya...
|
|
Semasa Rajo Gagah Gumpito memimpin kerajaan di wilayah Sumpur Kudus, datanglah syekh asa Kudus, Jawa, bernama Syekh Ibrahim. Konon, dialah membawa, mengajarkan, sekaligus meng-Islamkan masyarakat Sumpur Kudus abad 16. Syekh Ibrahim kemudian menulis sumpah di atas sebuah batu besar menegaskan masyarakat Sumpur Kudus tidak boleh menganut agama lain selain Islam.
Hingga kini, masyarakat masih mempercayai sejarah tersebut. Menurut cerita, Syekh Ibrahim menulis, kalau ada masyarakat Sumpur Kudus menganut agama lain, seluruh wilayah itu akan mendapat kutukan.
Pada masa jaya Partai Komunis Indonesia (PKI), partai ini melebarkan sayap ke Sijunjung. Namun, tak seorang pun masyarakat Sumpur Kudus bergabung. Berbagai tekanan mereka hadapi, tetapi komunis tetap saja tak bisa masuk.
|
|
Selanjutnya...
|

Pasar Bandaaia, Pasie Nan Tigo, Kototangah dibangun dan dikelola oleh masyarakat sekitar. Warga di sana menolak campur tangan Pemko dalam pembangunannya. Alasannya sederhana, mereka tidak mau “cengkeraman” Pemko lebih besar dan menghilangkan peran warga. Seperti apa geliat ekonomi di sana?
DARI kejauhan, tampak kapal-kapal nelayan tertambat di bibir pantai. Agak sedikit jauh ke tengah, tampak pula kapal bagan. Mereka baru saja menyelesaikan bongkar muat ikan hasil tangkapan semalam.
Sementara itu, sejumlah ibu-ibu dan para bapak sedang asyik memilih ikan yang baru saja dibongkar. Anak-anak mereka juga ikut berjibaku proses bongkar muat dan pemilahan ikan itu.
Tak sunyi di pagi itu. Suara teriakan sahut menyahut. Para pedagang dengan ramah memanggil pembeli sembari mempromosikan kualitas ikan segarnya. “Bali da, ni , pak, buk,” seru penjual ikan berebut konsumen.
Di sudut lain, para pedagang bersitungkuslumus mengupas kelapa, mengaduk tepung, dan menggiling cabai. Suasana keakraban begitu kental, khas pasar tradisional. |
|
Selanjutnya...
|
|
Keseriusan PT KAI Pusat mengembangkan wisata kereta api di Sumbar dibuktikan dengan kedatangan Direktur Utama PT Kereta Api Wisata (KAW) Indonesia, dan Executive Vice President Heritage PT KAI Pusat, Senin (31/8). ”Januari 2010, wisata kereta api akan di-lauching PT KAI di Sumbar,” ungkap Budi Zein, Direktur Utama PT Kereta Api Wisata (KAW) Indonesia. Saat ini, pihaknya sedang mempersiapkan fasilitas, izin, persiapan hukum dan administrasinya. PT KAI Pusat akan mengembangkan pariwisata berbasis kereta api di Sumbar dan Ambarawa. Sumbar dengan potensi alam yang dimilikinya berpotensi besar untuk dikembangkan. ”Sumbar paling siap dibanding Ambarawa,” katanya. Sementara itu Ella, Executive Vice President Heritage PT KAI berkunjung ke Sumbar untuk pengembangan wisata kereta api. Menurutnya, PT KAI Pusat akan mengoptimalkan sarana dan alat yang bernilai budaya utuk pengembangan pariwisata berbasis kereta api mulai 2009 ini.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|