Sejarah Provinsi Sumatera Barat
Dari jaman prasejarah sampai kedatangan orang Barat, sejarah Sumatera Barat dapat dikatakan identik dengan sejarah Minangkabau. Walaupun masyarakat Mentawai diduga telah ada pada masa itu, tetapi bukti-bukti tentang keberadaan mereka masih sangat sedikit.
Pada periode kolonialisme Belanda, nama Sumatera Barat muncul sebagai suatu unit administrasi, sosial-budaya, dan politik. Nama ini adalah terjemahan dari bahasa Belanda de Westkust van Sumatra atau Sumatra's Westkust, yaitu suatu daerah bagian pesisir barat pulau Sumatera.
Memasuki abad ke-20 persoalan yang dihadapi Sumatera Barat menjadi semakin kompleks. Sumatera Barat tidak lagi identik dengan daerah budaya Minangkabau dan telah berubah menjadi sebuah mini Indonesia. Di daerah ini bermukim sejumlah




Kota Padang adalah salah satu Kota tertua di pantai barat Sumatera di Lautan Hindia. Menurut sumber sejarah pada awalnya (sebelum abad ke-17) Kota Padang dihuni oleh para nelayan, petani garam dan pedagang. Ketika itu Padang belum begitu penting karena arus perdagangan orang Minang mengarah ke pantai timur melalui sungai-sungai besar. Namun sejak Selat Malaka tidak lagi aman dari persaingan dagang yang keras oleh bangsa asing serta banyaknya peperangan dan pembajakan, maka arus perdagangan berpindah ke pantai barat Pulau Sumatera.
Kabupaten Lima Puluh Kota kaya akan potensi objek wisata diantaranya yang dapat dijual untuk menarik kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lima Puluh Kota diantaranya jenis objek Wisata Alam (33 objek) , Wisata Budaya (6 Objek), Wisata Sejarah (9 Objek) dan Wisata Arkeologi (4 Objek). Dan berdasarkan tujuan berwisata, dari klasifikasi yang ada, Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki 4 (empat) kategori yakni : Pariwisata untuk menikmati perjalanan (7 objek), Pariwisata untuk Rekreasi (24 Objek), Pariwisata untuk kebudayaan (19 objek) dan pariwisata untuk olahraga (2 objek).


